Sahabatku begitu cantik mengenakan gaun putih terindah yang
membalut tubuhnya. Senyum bahagia yang terpancar membuat wajahnya yang lembut
tampak kian mempesona.
Aku memandangnya haru. Tak terasa, ia akan segera menikah. Bukan, maksudku, ia sudah resmi menjadi seorang istri, sejak ijab qabul beberapa jam yang lalu. Sebentar lagi, pesta pernikahan akan berlangsung.
Lima tahun telah berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku
mengenalnya.
Kala itu, hari kedua kuliah. Ia duduk di sampingku. Kami
berbincang, tanpa mengetahui nama masing-masing. Hingga dosen melemparkan
sebuah pertanyaan padanya, dan menanyakan namanya. Barulah kuketahui, gadis
cantik asal Sukabumi itu bernama Riska.
Kami semakin dekat. Aku merasa nyaman dengannya. Ia sangat dewasa, selalu bisa mencairkan suasana, membuatku bahagia ketika bersamanya. Dia sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri. Bahkan ia juga dekat dengan orang tua dan adik perempuanku.
Suatu hari, ada seorang teman yang sempat mengatakan kami lesbian. Kami memang sering terlihat bersama. Kami mengikuti organisasi yang sama, di departemen yang sama pula. Dia pernah beberapa kali bertandang ke rumahku. Dan aku sering bermain ke kostnya, kadang sampai menginap.
Ia selalu menceritakan segalanya padaku, begitu pula aku. Hampir
tak ada rahasia di antara kami.
Aku bukan satu-satunya sahabat yang ia miliki. Ia memiliki sahabat
yang sudah ia kenal sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan tetap dekat hingga
kuliah. Meski setahun yang lalu, sahabatnya meninggal karena sebuah kecelakaan.
Saat itu ia sangat terpukul. Ia bagaikan kehilangan saudara kandungnya sendiri.
Kebetulan, ia anak tunggal. Kepada sahabatnyalah ia selalu berbagi kisah. Saat
ia menemukan cinta pertamanya ketika smp dulu, hanya sahabatnya yang tahu. Aku
adalah orang kedua yang mendengar ceritanya tentang laki-laki bernama Azka itu.
Aku jadi ingat, saat itu ia juga bertanya tentang cinta pertamaku.
Aku bingung.
Aku belum pernah mencintai seseorang seperti ia mencintai cinta
pertamanya. Atau, seperti ia mencintai laki-laki yang saat ini menjadi
suaminya.
Pernah, ketika kelas satu sma, aku menyukai seseorang. Yoga, laki-laki
yang kuanggap cinta monyetku.
Ah, bayangan itu hadir kembali.
Bayangan putih abu-abu.
Laki-laki itu cukup tampan, kulitnya putih bersih, meski ia
terbilang cukup bandel. Ia cukup sering membolos sekolah. Berulang kali
dimarahi guru karena tak mengerjakan tugas. Padahal ia tergolong cukup pintar.
Ternyata tak hanya aku yang menyukainya. Setidaknya, di kelasku
ada ada tiga orang yang menyukainya. Sialnya, aku termasuk salah satunya.
Hampir setiap saat aku memperhatikannya. Segala hal yang berhubungan
dengannya begitu penting bagiku.
Terkadang aku senyum-senyum sendiri, hanya karena membayangkan
wajahnya. Membayangkannya tersenyum padaku, walau hanya dalam anganku.
Aku beberapa kali menangis karenanya. Karena laki-laki itu.
Suatu hari, aku mengerjakan tugas kelompok bersamanya dan dua
teman yang lain, Anik dan Galuh, di rumahku. Ya, kami satu kelompok saat itu.
Ayah ibuku masih bekerja, dan adikku, seperti biasa bermain ke
rumah temannya. Jadi, hanya ada kami berempat di rumah.
Tak ada hal aneh yang terjadi saat itu. Kami benar-benar
mengerjakan tugas fisika yang begitu rumit. Tentu, diselingi canda yang
terkadang berlebihan. Tapi, Yoga membuatku tak bisa mengekspresikan segala yang
ku rasa dengan bebas. Aku tak bisa tertawa lepas seperti yang lain jika ada
yang lucu. Bahkan, segala ide tertahan di kepalaku. Kata-kata yang terucap tak
sesuai dengan yang kupikirkan.
Aku salah tingkah tiap Yoga melihatku. Terlebih setiap ia bertanya
padaku.
Jam setengah enam sore, ayahku pulang kerja tepat ketika
teman-temanku bersiap untuk pulang. Mereka menyapa ayahku.
“Mereka temenku, Yah. Tadi ngerjain tugas,” kataku kemudian.
“Loh, ngga? Kamu disini?” Ayah bertanya pada salah satu temanku.
“Eh.. iya om,” Yoga terlihat salah tingkah. Ia menggaruk
kepalanya, membuat rambutnya semakin berantakan.
Aku bingung, mengapa Yoga yang menjawab. Dari mana ayah mengenal
Yoga. Aku sempat khawatir, Ayah tahu tentang cinta monyetku. Tentang perasaanku
pada Yoga. Tapi, kurasa tak mungkin. Aku tak pernah menceritakan hal ini pada
siapapun. Bahkan, buku diary pun tak ku biarkan mengetahuinya.
“Kamu sekelas sama Nita?” Ayah kembali bertanya.
“Iya,” jawab Yoga singkat.
“Nita kok nggak pernah cerita ya kalo kalian sekelas?”
Yoga hanya tersenyum.
Aku semakin tak mengerti. Bagaimana ayah mengenal Yoga, dan apa
maksud perkataannya tadi.
“Maaf om, saya pamit pulang dulu. Udah sore,” kata Galuh kemudian.
“Saya juga, om,” kata Yoga.
“Iya, hati-hati. Kapan-kapan mampir ya.”
“Iya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Teman-teman pun meninggalkan ayah dan aku yang berdiri mematung,
menyisakan kebingungan.
“Ayah kenal Yoga?”
“Maksud kamu?”
“Yang tadi Ayah tanyain itu, Yoga.”
“Dia Angga, Ta.”
Aku mengernyitkan dahi.
“Temenmu waktu TK dulu, nita. Kamu lupa?”
Aku terdiam, mencoba mengingat-ingat.
“Angga, yang selalu main bareng kamu, sama Dio, sama Sheila juga.”
Aku ingat, ibu, juga ayah, memang pernah bercerita tentang mereka
sebelumnya. “Itu Angga?”
“Iya, siapa lagi?” Ayah berlalu, menuju kamar mandi.
Sedangkan aku?
Tak dapat ku ungkapkan betapa kagetnya aku saat itu.
Orang yang ku sukai, ku kagumi, menyita perhatianku, membuatku
menangis, ternyata sahabat kecilku.
Aku benar-benar lupa wajah polosnya sepuluh tahun yang lalu.
Aku lupa semua yang ku lalui ketika bersekolah di taman kanak-kanak selama dua tahun lamanya.
Aku lupa semua yang ku lalui ketika bersekolah di taman kanak-kanak selama dua tahun lamanya.
Aku memang payah. Ibuku yang banyak bercerita.
Dan malam ini, ibu kembali bercerita. Tentang Angga, sahabat
kecilku, yang ternyata adalah Yoga, cinta monyetku.
“Dulu kamu sering ke rumahnya Sheila, sepupunya Angga. Kalian
biasanya main berempat, sama Dio juga, tetangga Sheila.”
Aku menganguk-angguk. Aku baru sadar, hingga saat ini aku masih
ingat dimana rumah Sheila. Beberapa kali aku melihat Sheila di depan rumahnya,
dan aku mengenalinya. Tapi, entah kenapa wajah Angga, atau Yoga, begitu asing
bagiku. Selama delapan bulan aku melihatnya hampir setiap hari, tapi tetap saja
aku tak menyadari bahwa ia adalah sahabat kecilku.
Dan dia, entahlah, apakah ia masih mengingatku atau tidak, aku tak
mengerti.
“Dulu Angga itu ganteng banget, Ta. Putih, bersih, ibu aja suka. Omnya Angga, ayahnya Sheila, sampai pernah bilang, kalian berdua itu cocok. Cantik sama ganteng. Kalau besar siapa tau bisa kita jodohin.”
“Dulu Angga itu ganteng banget, Ta. Putih, bersih, ibu aja suka. Omnya Angga, ayahnya Sheila, sampai pernah bilang, kalian berdua itu cocok. Cantik sama ganteng. Kalau besar siapa tau bisa kita jodohin.”
Deg! Aku sangat terkejut.
Ya Tuhan, apa dia memang jodohku, pikirku saat itu.
Ya, saat itu.
Karena beberapa bulan setelahnya aku memutuskan untuk
melupakannya. Menghapus rasa yang mengganggu duniaku. Aku tak mau lagi menangis
karena cinta. Masih terlalu dini untuk itu. Keputusanku bulat.
Perlahan aku mulai berhasil. Namun, tetap saja, rasa itu masih
berbekas.
Hingga aku kuliah pun, ada perasaan aneh tiap ibuku
membicarakannya. Ibu memang tidak tau mengenai perasaan yang dulu pernah
kurasa. Lebih tepatnya, aku menyimpan rasa itu sendiri. Tak ada seorangpun yang
tau. Sekalipun sahabatku, Riska.
Beruntung, sang waktu telah membantuku melupakannya.
Meski ia kembali hadir dalam hidupku ketika kuliah, aku hanya
menganggapnya teman. Dan juga, sahabat kecil yang sempat terlupakan olehku.
Lamunanku terhenti.
Ah, bodoh sekali aku. Hari ini sahabatku menikah, aku malah
mengenang sahabat kecilku, cinta monyetku. Aku tak boleh seperti ini.
Aku memandang sahabatku yang telah berdiri di samping suaminya.
Mereka sangat serasi.
Aku sangat berharap, semoga sahabatkku tak salah memilih. Semoga
laki-laki bernama Prayoga Yusuf Anggara itu akan selalu membahagiakan
sahabatku. Jujur saja, tersirat rasa kekhawatiran yang sedikit mengganggu
atmosfer bahagia yang ku rasa. Aku hanya khawatir suaminya mengecewakannya,
seperti ia mengecewakan mantan kekasihnya kala remaja dulu. Hanya itu. Bukan
karena ia akan menikah, dan membuat kami akan jarang menghabiskan waktu
bersama. Bukan pula karena aku masih mencintai cinta monyetku. Karena aku memang
tak pernah mencintainya. Rasa yang menggangguku saat itu, ku yakini hanyalah
rasa suka, atau kagum. Tak lebih.
Ya, sahabatku menikah dengannya.
Kini, cinta
monyetku itu begitu gagah bersanding dengan sahabat terbaikku.
Berbahagialah,
seperti aku berbahagia untuk kalian, sahabat....

0 comments:
Post a Comment