Rupanya terlampau sulit menghancurkan tembok ini seorang diri. Tembok yang membuat kita ragu tuk melangkah bersama. Membuatku tak mampu tuk sekadar menggenggam erat tanganmu.
Namun dengan ijinNya aku telah berhasil membuat sebuah celah. Sebuah lubang kecil, yang mengijinkan kita berbagi cerita. Aku cukup lega, mengetahui jalanmu tak seterjal yang kulalui. Aku cukup bahagia, menyaksikan tawamu bersama yang kau kasihi.
Tapi rasa itu tetap ada, rasa khawatir akan ujung jalanmu yang tak seindah saat ini.
Jauh, jalan yang kan ditempuh. Sejauh kenyataan, dari angan yang menari dengan indah dalam khayalmu. Bahagiamu disana, hanyalah fatamorgana. Andai kau tahu itu.
Hingga waktu yang belum kuketahui akhirnya, aku tak kan merobohkan tembok ini.
Aku yakin, suatu saat nanti kan datang orang-orang yang kan membantuku merobohkannya. Mengajakmu bersama mengarungi duniaku. Yang tak cukup indah, namun kutahu lebih baik dengan kehadiranmu. Terlebih, kutahu jalan ini kan meraih ujung yang sempurna.
Atau justru mereka akan menemaniku menapaki jalan ini, tanpa memedulikan apa yang ada dibalik tembok yang membatasi. Membiarkanmu menari. Tanpa kau tahu, daerah tujuanmu penuh duri.
Setidaknya, saat ini aku bahagia.
Disini, tempat aku berdiri menjejakkan kaki bersama mereka yang kucintai. Menatap hari esok dengan pasti.
