terima kasih, Tuhan. aku
mencintaiMu. meski cintaku tak sebesar cintaMu,
tapi aku bahagia. bahagia dapat merasakan
kebahagiaan dunia yang hanya 1% saja. kebahagiaan akhirat, itulah
tujuanku. tegur aku slalu, untuk semakin
mencintaiMu ♥
“Kau, Nak, paling sedikit kau harus
bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena
kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh,
jauh di kemudian hari. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak
menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”
(Pramoedya
Ananta Toer)
"Satu peluru hanya bisa
menembus satu kepala, tapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan
kepala, sedangkan satu tulisan yang diciptakan oleh hati yang bersih akan
menjadi petunjuk penerang jutaan bahkan miliaran hatinya umat di saat zaman
kegelapan datang."
Ia tak mau
membagi miliknya pada orang lain. Juga kepadaku.
2008
Ia belum
berubah. Masih sama seperti tiga tahun yang lalu.
2011
Ia mulai
membuka hati. Ia ingin saling berbagi denganku. Aku membagi yang ku punya. Sejak
dulu, aku memang tak pernah berusaha menyimpn milikku seorang diri. Berbagi,
memang lebih membahagiakan. Membagi pemberian Tuhan padaku.
2012
Ia kembali
menutup hatinya. Tak mengijinkanku, bahkan untuk sekadar mengintip apa yang ia
punya. Ia menyimpan miliknya, untuk dirinya sendiri.
Aku tak
mengerti, tapi memang inilah dirinya yang kukenal, tujuh tahun yang lalu.
Aku tak boleh
menutup hatiku. Aku bahagia dengan caraku. Aku percaya, Tuhan bersamaku.
Aku tak boleh
melupakan, bahwa segala yang kupunya, hanyalah pinjaman dari Yang Maha
Pengasih, sebagai tanda cintaNya padaku, yang harus ku pertanggungjawabkan
nantinya.
Terima kasih,
atas pelajaran yang kau berikan padaku, kawan.
Terima kasih,
atas pemberian terbaik yang Kau anugerahkan padaku, Tuhan.
Mungkin Anda sudah pernah membaca kisah ini
sebelumnya. Namun, kisah ini selalu membuat saya semakin mengagumi Alquran,
juga semua ciptaanNya.
Sebuah kisah tentang Mr. Jacques Yves Costeau, seorang ahli Oceanografer dan
ahli selam terkemuka dari Perancis, yang menemukan sungai di dalam laut.
Sepanjang hidupnya beliau telah menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero
dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk
ditonton oleh seluruh dunia.
Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba
Captain Jacques Yves Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar
yang sangat sedap rasanya karena tidak melebur dengan air laut yang asin di
sekelilingnya, seolah-olah ada dinding yang membatasi keduanya.
Mr. Costeau mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di
tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi
atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian
tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang
fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia
pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran
tentang bertemunya dua lautan yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez.
“Dia membiarkan
dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas
yang tidak dilampaui masing-masing.”
(QS Ar Rahmaan
: 19-20)
Kemudian dibacakan ayat lain yang semakin menambah kekagumannya.
“Dan Dialah
yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan
yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas
yang menghalangi.”
(QS Al
Furqan:53)
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya
melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam.
Alquran ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu
zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang
jauh terpencil di kedalaman samudera.
Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Alquran memang
sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya
mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
Rasulullah
s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh
air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini
bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca
Al Quran.”